Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimmahullah dalam Syahrul Mumti [3/75 cet Darul Atsar] :

Kami katakan :

“ Kalau seseorang mengumpulkan air liur (di dalam mulutnya) kemudian menelannya, bukan hal yang makruh. Tidak bisa pula dikatakan bahwa puasanya berkurang dengan sebab tersebut. Karena jika kita mengatakan bahwa perkara tersebut adalah makruh, maka konsekuensinya puasa orang tersebut berkurang dikarenakan perbuatan yang makruh tersebut.

 

Dapat diketahui dari perkataan mualif (penulis Zadul Mustaqni’) yaitu : Kalau seseorang menelan air liurnya tanpa dikumpulkan terlebih dahulu maka yang demikian itu tidaklah makruh. Dan ini adalah perkara yang dhohir.

 

Maka dengan demikian tidaklah wajib meludah walaupun setelah minum air di saat adzan subuh, karena yang demikian ini tidaklah pernah dilakukan para shahabat sebagaimana yang kita ketahui yaitu perbuatan seseorang minum di saat terbitnya fajar kemudian meludah samapi hilang rasa air, bahkan perkara ini termasuk perkara yang dimaafkan.

 

Akan tetapi jika tersisa rasa makanan seperti manisnya kurma atau semisalnya maka menjadi satu keharusan untuk meludahkannya dan tidak menelannya.

 

 

 

 ~Al ustadz Abu Hafsh Marwan dalam 111 kilauan mutiara ulama’ seputar puasa_maktabah al ghuroba~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: